Karena tiap kegagalan tidak untuk diratapi





      “Ibu aku anak terakhirmu, yang harus menjadi tanggung jawab untuk memberi mu kenyamanan dalam menuai  perjuanganmu selama saudara" ku yang sebelumnya lahir duluan daripadaku, yang harus menjadi embun pagi menyejukkan sesak nafas dalam perjalan mu membesarkan, merawat dan mendidik ku ibu. Hidup yang kau jalani untuk keberkatan hidupku raga dan jiwamu tak pernah engkau perduli,
saat itu tanpa sengaja mata ini melirik dan melihatmu sesekali engkau memandangi setiap sisi tubuh dan jemari mu yang kini semakin hari semakin menua daging dan kulit perlahan terpisah. tulang belulang menjadi nampak, peta urat semakin menebal. Tidak ada alasan aku menjadi pecundang yang harus lari dari tanggung jawab ku membalas semua itu.
Masalah yang selalu menjadi patah  semangat ku, namun ridho mu ibu yang melonggarkan semua nya. Aku bungsu mu yang harus menjadi senja, penyebab senyum bangga di bibirmu. tak ada gunung, panas hujan yang menjadi lawan setiap hari nya. ibu dering khusus yang ku setel berbunyi hampir setiap hari pertanda darimu mengontrol kebutuhan ku. Suatu saat pelangi akan aku luliskan untuk mu ibu. Selagi umurku panjang dan ajal belum menjemputku”
Aku menulis kisah, sadar betul bahwa belum ada capaian yang menginspirasi orang-orang di sekelilingku, belum ada cita paling tinggi yang aku capai. belum menjadi orang sukses. Penyesalan yang ada padaku visiku terlalu sedikit cita ku terlalu sempit. Dan itu lah yang menjadikan ku sebagai orang mau menulis catatan  karena sebuah penyesalan. Berbeda pada orang lain umumnya.
Bismillah
Aku Norma disapa Nor, atau Mma, atau paling sering dan terkenal itu Lebu (Bundar). Bercita-cita menjadi guru dengan alasan bahwa menjadi guru aku bisa menjadi anak yang berbakti pada bangsa, amal jariyah dan bisa memenuhi kehidupan yang layak. Berawal dari cita  Ke dua orang tuaku berbekal ambisi menerobos usia dan fisiknya yang kini sudah genap berumur 58 dan 56. Ayah sebagai petani ibu sebagai ibu rumah tangga, ada kisah yang paling sering ku ingat ketika mengisi form ditiap kali seseorang meminta biodata di point identitas orang tua di suguhkan pertanyaan pekerjaan orang tua ayah apa, ibu apa? Aku menulis ayah petani ibu URT salah satu teman ku mengatakan bahwa itu bukan pekerjaan melainkan kewajiban. yang namanya pekerjaan itu ada hasil. urt hsilnya apa? Sampai saat ini menjadi ambigu bagi ku untuk menulis riwayat pekerjaan ibu, lagi-lagi menjadi motivasi untuk ku belajar lebih.

Sejak kecil yang menjadi impian orang tua ku adalah anak dan cucunya mendapatkan pekerjaan yang layak, seperti orang tua pada umumnya yang memiliki kehidupan terbatas tidak mengiginkan keturunanya memiliki nasib yang sama. Makan penuh dengan keterbatasan. Inspiratif  kisah husen yang selalu menjadi prinsipal hidup di kampung, yaitu  ketika ingin makan ikan husen harus ke laut menangkap ikan dahulu, artinya tidak ada yang instan dalam hidup semua butuh usaha dan kerja. Ambisi itu yang menggerakkan aku berjuang, bungsu harus terdidik dari segala aspek baik dalam lingkungan  formal, informal, dan non formal. Sebuah petuah yang berkutip bahwa semua yang ada di  sekitarmu adalah pelajaran maka ambillah pelajaran di setiap peristiwa. Itulah yang mungkin menjadi acuan kenapa ke dua orang tuaku harus melawan usia dan kekuatannya untuk menyekolahkan aku hingga ke jenjang MAHA.

Komentar